

Kalau yang ini memang benar-2 bocah ndeso, rumahnya di tepi bengawan Solo, jadi kalau musim hujan pasti kebanjiraan dan kalau mau ke mana-2 terutama ke wilayah Tuban pasti dan harus menyeberangi bengawan dengan naik perahu kayu yang kecil ... hii ngeri ... namun, punya tekad dan kemauan yang lumayan untuk mengejar dan mewujudkan cita-2 nya ... yaa setidak-tidaknya biar menjadi sedikit kuto ...

kecerdasanya. Saat itu jam pelajaran PMP, guru menanyakan PR yang sudah diberikan beberapa hari sebelumnya, kebetulan saat itu teman kita ini tidak mengerjakan, tidak jelas apakah lupa atau memang malas mengerjakan PR, yang pasti dia tidak mengerjakan. Dengan kecerdasannya yang spontan, dia langsung mengeluarkan buku catatan PMP lalu memberikan nomor urut di buku catatan itu seakan-akan merupakan jawaban PR yang diberikan guru ... luar biasa ... Umar .. Umar ...
diberitahukan kepada seluruh alumni esatto-4 bahwa akan diadakan acara menyambut malam tahun baru 2009 (old and new) yang Insya Allah akan dilaksanakan pada tgl 31 Des 2008, 1 & 2 Januari 2009 di kawasan Villa ELISA Songgoriti Permai II / Kav-IV No. 100 atau Jl. Arumdalu No. 100 Telp. 0341-593798 Batu - Malang, bagi teman-2 alumni yang berminat bisa menghubungi Riana/Yusuf (Tuban), hal-2 lain terkait dengan teknis acara akan dibicarakan kemudian ... kita tunggu kabar kepastiannya, terimakasih ...

Siap yang nggak kenal dengan teman kita yang nama lengkapnya Drs.Nur Khamid atau yang lebih akrab disapa dengan “pak khamid” yang sekarang menjabat sebagai Wakasek di SMPN 1 Soko dan sekaligus Plh Kepala SMAN Soko ini ? Bapak kelahiran Tuban, 2 Februari 1964 ini adalah sosok yang humoris, enerjik dan pantang menyerah.Hal ini terlihat dari perilakunya yang selalu tampak ceria setiap saat dan di manapun berada. Pak khamid juga sosok guru yang dikagumi murid-muridnya lho….! Tak heran jika beliau sering terlihat bersama anak-anak didiknya. Di samping orangnya humoris, pak Khamid juga enak diajak curhat masalah seputar kita-kita.
Pak Khamid merupakan anak ke empat dari 7 bersaudara dari pasangan Bapak Fatchan (alm) dan ibu hj. Mahmudah. Jenjang pendidikan diawali di SDN Latsari di Tuban. Semenjak SD dulu, sudah mempunyai prestasi yang cukup membanggakan yaitu menjadi juara pertama pertandingan catur tingkat SD se-kecamatan Tuban kota. Setelah lulus SD, melanjutkan ke SMP Mualimin Tuban, kemudian lulus tahun 1981. Setelah itu melanjutkan sekolah ke SMAN 1 Tuban dan pada tahun 1984 beliau lulus.
Setelah lulus SMA, pak Khamid kuliah di ikip negeri Surabaya S1 jurusan Pendidikan Olah Raga.Di perguruan tinggi inilah Pak Khamid berhasil mencetak prestasi yang amat sangat membanggakan yaitu berhasil menjadi juara pertama Gulat di Surabaya, dan juara pertama Judo antar master di Sur
abaya. Wow….membanggakan sekali kan.
Di perguruan tinggi, Pak khamid mulai berorganisasi,salah satunya yaitu menjadi pengurus HMJ( himpunan mahasiswa jurusan) terutama jurusan Olah Raga.Beliau lulus dari perguruan tinggi tahun 1989.
Beliau mengajar pertama di SMA Mualimin Tuban Tahun 1989, dan pada saat itu menadi guru olah raga. Setelah itu beliau di pindah tugaskan ke SMPN 1 Soko sampai sekarang ini. Pak Khamid mulai menjadi guru negeri di SMPN 1 Soko ini mulai tanggal 7 Agustus 1990. Jabatan yang pernah beliau pegang antara lain :
Selain itu pengalaman organi sasi di antara lain:
Saat ditanya bagai mana cita-cita beliau, pria paruh baya yang bermotto “to be number one “ ini menjawab ingin memajukan prestasi SMPN 1 Soko dalam segala bidang, memajukan prestasi olah raga kabupaten Tuban dan mencetak atlit gulat level nasional dari Soko atau Kabupaten Tuban. Dan ternyata cita-cita beliau sudah tercapai yaitu dapat membawa beberapa muridnya yang menjuarai banyak pertandingan dalam bidang olah raga Gulat dan Karate.
Pak Khamid juga berpesan lho… bagi kita-kita semua ,khususnya majalah what SMPN 1 Soko ; “seiring dengan umur yang bertambah, what bisa menjadi sarana yang baik untuk mengkomunikasikan informasi antar warga sekolah maupun menjadi sarana pengembangan bakat penulisan siswa, juga agar majalah WHAT lebih meningkatkan kualitasnya! “ ujar Pak Khamid dengan wajah berseri-seri.
info ini kita dapatkan dari http://smpn1soko.wordpress.com/2008/09/04/pak-khamid/
Menjelang hari raya atau liburan, di beberapa sudut kota pun terpampang spanduk tentang reuni yang diadakan berbagai alumni SLTP maupun SLTA. Ada pula reuni yang diistilahkan dengan silaturahmi antarwarga yang berasal dari daerah atau kota tertentu.
Begitu banyak orang yang memerlukan reuni, sampai-2 stasiun televisi Trans pernah membuat acara Reuni di layar kaca selama sekitar setahun. Sebagai sebuah tontonan, Reuni di televisi berhasil menyajikan ekspresi wajah senang, kaget, heran, sampai keinginan bercerita yang seakan tak ada habisnya.
Reuni bagi sebagian orang bukan acara yang menghabiskan waktu. Kesempatan ini justru ditunggu-tunggu, antara lain untuk mendapatkan aura yang berbeda dari kejenuhan ritme kehidupan sehari-hari. Reuni selain demi menyambung tali silaturahmi juga bermanfaat membentuk jejaring komunikasi.
Reuni tak sekadar silaturahmi, tetapi juga sarana mengenal lebih dalam tentang manusia. Katanya, karakter seseorang bisa menunjukkan ke mana dia akan bekerja nantinya. Itu semua disimpulkannya dari acara reuni.
“Ternyata kawan yang dulu (sewaktu SLTA) pendiam, kerjanya sebagai pegawai pemerintah, tidak neko-neko. Kalau kawan yang dulu aktivis, terbukti lebih banyak bekerja sebagai wiraswastawan atau pegawai swasta. Begitu pula teman yang kreatif, punyà usaha sesuai dengan wataknya,” begitu kira-2 komentar sesama teman setelah mengikuti acara reuni.
Reuni juga bisa membuat rasa kebersamaan yang hadir semakin kuat. Dengan reuni kita dapat bertemu kembali dengan teman-teman semasa sekolah dulu, setelah sekian tahun tidak bertemu.
Reuni juga membuat rasa persahabatan mereka mengental. Contohnya, saat salah satu di antaranya menikahkan anaknya meski di luar kota sekalipun, mereka akan menyempatkan diri datang bersama-sama.
“Setiap pertemuan itu menyenangkan. Kami bisa cerita zaman dulu, gimana mencontek, bagaimana gaya melempar bola saat main kasti, bagaimana saat seorang murid kentut di kelas sehingga membuat guru marah, bagaimana saat naksir teman sebangku, dan sebagainya. Kami profesional, semua diperagakan lagi...
Rasa kesetiakawanan juga muncul, misalnya saat salah satu teman dilanda musibah maka teman-teman akan datang untuk sekedar menghibur saat kesusahan itu datang, ini yang tak bisa dinilai dengan uang sekalipun.
Reuni juga bisa melebarkan jaringan pertemanannya. Ini bukan hanya membuat hidupnya menjadi kaya teman, tetapi juga kaya informasi.
Rasa setia kawan dan persahabatan yang kembali muncul saat reuni, kemudian bisa berlanjut. ini tak bisa dinilai dengan uang. “Sejak reuni, banyak teman yang lama kita tak tahu kabar beritanya seperti tiba-tiba muncul. Mereka bekerja di berbagai bidang. Ini buat kita seperti aset informasi karena dari situ kita bisa mendapatkan banyak hal, mulai dari cerita yang mencerahkan hidup sampai kesempatan berusaha,”.
Karena rasa percaya dan setia kawan, mereka akhirnya membantu kawan lain yang membutuhkan kerja sama usaha. Sesudah reuni ternyata banyak terbentuk kelompok kecil sesuai dengan bidang kerja. Karena kami kawan lama, kepercayaan yang mahal nilainya itu langsung muncul.”
“Ada satu teman perempuan yang cerita, dulu dia sebal sekali sama saya karena suka mengganggu da. Dia bahkan sempat minta kepada orangtuanya agar pindah sekolah. Wah, cerita dia membuat saya malu, ternyata kenakalan saya berakibat fatal bagi orang lain. Cerita seperti ini barangkali pernah kita alami juga saat kita masih di sekolah, dan akan terkenang kembali saat kita menghadiri acara reuni .
Bagi kebanyakan kita reuni SLTA adalah saat mengenang kenakalan masa remaja, rasa jatuh cinta, dan “mengklarifikasi” gosip.
“Cerita tentang siapa pacaran dengan siapa dan sekarang akhirnya kawin dengan siapa sering menjadi topik reuni. Atau juga soal berantem, musuhan, dan saling ledek,”.
Reuni juga bisa membuat seseorang lepas dari “statusnya” sehari-hari. Kalau biasanya dia adalah seorang suami / istri atau ayah / ibu, dalam reuni mereka semua “lajang”. Biasanya reuni lebih asyik tanpa melibatkan keluarga.
“Kita enggak perlu jaim (jaga image), keluarga juga enggak merasa dilupakan karena biasanya kalau reuni kita jadi lupa diri,” Untuk menentukan waktu reuni yang cocok untuk semua alumni adalah hal tersulit.
Menurut kebanyakan orang, hidup itu dimulai pada usia 40-an. Oleh karena itulah saat reuni tahun 2008 dirasakannya berkesan dan memberi semangat. Bernostalgia sambil menebak wajah siapakah yang terpampang di layar lebar yang dipasang di aula Sekolah memberi kegembiraan tersendiri.
“Kita jadi ingat betapa enaknya menjadi orang jahil. Waktu olahraga, misalnya, kita suka menyembunyikan celana panjang teman. Jadi, sampai pulang sekolah, dia hanya pakai celana pendek,” Yaa begitulah kira-kira yang kita peroleh dari acara REUNI ...
Ini sekedar pendapat pribadi, teman-2 juga boleh kok punya pendapat yang beda ...
Kata Sun Yat Sen : "Banyak orang menyukai kekerasan padahal manusia hanya bisa ditundukkan oleh kelembutan".




MENCARI YANG HILANG, MENYAMBUNG YANG PUTUS, MENGIKAT YANG LEPAS.